Wednesday, December 16, 2009

ShalloW

Topik tentang cinta itu (membuat orang lain berpikir)... dangkal. Dan membosankan. Dan merepotkan serta membuang waktu.

dan kurasa sebagian besar (almost 100%) memang benar, topik ttg cinta itu gak elit, karena semua orang mengaku memahami dan mengerti apa itu namanya cinta. Coba kalau topik ttg Rara Mendhut-nya Rama Mangun, mesti gak banyak yg pada tau kan... Atau ttg alasan apa saja yg membuat operasi reseksi prostat yg lewat uretra lebih berbahaya dibanding prostatektomi biasa.. Nggak semua orang tau kan? Ya yg seperti itu-itulah yang berguna buat ditulis.

Kamu dihargai orang lain sebagaimana kamu sendiri menghargai dirimu.

Saturday, December 12, 2009

Paris, maybe I'll say I do.. maybe..

kali aja your Romeo is inside this Paris, so why don't we give this Paris a chance?

;->

Friday, November 13, 2009

harmonizing Henna to my hand

Ada pelukis henna yg mahir lho di FK International Programme lt 2 Classroom 1. Lihat henna tanganku, itu hasil lukisannya.


Sejam setelah tanganku dilukis...


2 jam setelah aku mencuci henna di tanganku...

Kata temanku Swarna, henna biasanya digambar di tangan untuk peristiwa-peristiwa yang spesial, seperti misalnya pernikahan. Ingat, Aisyah di film Ayat-ayat Cinta? Yang di tangannya saat dia menikah kan henna juga?

Banyak-banyak mitos yang menyertai lukisan henna, seperti.. bahwa dia akan semakin pudar warnanya bila kau semakin sering memakainya.. wow.. orang bilang kulit semakin insensitif thd henna bila paparan thd henna semakin banyak. padahal kan kulit setiap hari selalu mengalami pengelupasan yaa.. harusnya ganti epitel kulit ganti pula sensitifitas thd henna-nya, ya nggak siy?
Makanya ada beberapa org yg hanya memakai henna utk acara-acara yg benar2 berharga saja, supaya kemilau henna di tangan mereka tetap terjaga.

Mitos kedua, warna henna berbanding lurus dg dalamnya perasaan cinta pasanganmu. Semakin gelap warna henna yang melekat di kulitmu, berarti semakin dalam rasa cinta kekasihmu padamu. Hm.. hm. merujuk foto yg kedua, menurut kalian, seberapa dalam perasaan cinta pasanganku ya?
Wakakakk, ow irony. I don't even have a boyfriend. You should focus on that sweet naked ring finger too, hehee.

Back on track, temanku yang mahir melukis henna masih menunggu kalian hingga hari Jumat ini, pukul 1 hingga pukul 4 sore. tarif bervariasi antara 5 ribu hingga 50ribu rupiah, tergantung desain yang kalian pilih. It's a part of fundraising project for an event, so help them, be there and be painted! :-)

Get Over It!

Wuehehee...
aku lajang kembali. It feels so good.

I have soo got over it, ready for a new day... and new guy, hihii... ;->

Sunday, October 25, 2009

nemu blog

nemu blog Maia di internet..

dia nulis ini niy.

yang asli nulis ini dari awal, mesti cewek.. hbs kok bisa ngerti bgt siy..

awareness, episode 1

You beg me, I'll pity you.
You talk to me, I'll respect you.
You defeat and conquer me, I'll serve you.

Kayaknya emg bener yg dibilang orang2, negara yg dirampas dg kekerasan lebih bertahan lama daripada yg dibangun lewat negosiasi. Tp bukan ga ada jalan juga, bangun negara yg kuat dari jalan diplomasi.. cuma mungkin jalannya lebih panjang dan melelahkan kali' ya..

Thursday, September 03, 2009

neuropati diabetes

Aku ingin belajar bersyukur dapat merasakan sakit, kejepit pintu, teriris pisau, menginjak paku, semua stimulus yang kupersepsikan sebagai sakit, aku bersyukur ya Allah. Sebagian manusia tidak seberuntung kita, teman. Mereka tidak dapat merasakan nyeri potensial dan nyeri aktual sejelas yang kita rasa. Mereka seperti berjalan dalam remang-remang, indera peraba mereka tidak lagi dapat menampakkan bahaya dengan jelas. Ada banyak penyebab, rangsang terus menerus hingga saraf pengirim tak mampu berdepolarisasi kembali atau memang sarafnya sendiri yang bermasalah, neuropathy. Salah satu yang sering kita temui, diabetic neuropathy.

Aku tak pernah berpikir terlalu panjang tentang diabetic neuropathy. Yang aku tau, diabetic neuropathy terjadi akibat konsentrasi glukosa yang tinggi dalam saraf. Seperti kita tahu, penderita diabetes memiliki kadar glukosa yang tinggi dalam darahnya. Lama kelamaan konsentrasi glukosa dalam sel saraf pun akan meningkat. Glukosa di saraf ini akan diubah oleh aldose reductase (dan koenzim NADPH) menjadi sorbitol.

Paling tidak ada 2 hipotesis bagaimana diabetic neuropathy terjadi. Yang pertama, akibat kadar sorbitol yang tinggi dan yang kedua, akibat kurangnya NADPH untuk sintesis NO.

Sorbitol menurunkan level myoinositol dan fosfoinositida; sehingga DAG, protein kinase C dan aktivitas Na+ K+ ATPase menurun. Hal ini menyebabkan rusaknya akson serta hilangnya selubung myelin saraf.

Hipotesis lain menyebutkan bahwa aktifitas aldose reductase yg meningkat memakai banyak NADPH, hingga enzim NO synthetase (yg juga butuh NADPH) menjadi berkurang aktifitasnya. Hal ini menyebabkan NO yg dihasilkan semakin sedikit, dan vasodilatasi berkurang, sehingga aliran darah menuju saraf juga berkurang.

Faktor lain yang berpengaruh terhadap terjadinya diabetic neuropathy antara lain metabolisme asam lemak yang meningkat, konsentrasi NGF (nerve growth factor) yg berkurang, dan stress oksidatif.

Setidaknya, itulah yang kupelajari dari buku.

Hipotesis tinggal hipotesis, semua berakhir pada satu keadaan, masalah saraf pada penderita diabetes. Mereka akan mengalami keterbatasan dalam perabaan. Kadang terlalu parah hingga mereka tidak lagi merasa sakit pada bagian-bagian tubuh mereka yang jauh. Tapi bisa juga, terjadi yang kedua, yakni keadaan di mana saraf mereka begituu mudah terangsang. Sentuhan sedikit menyebabkan nyeri, kadang terasa seperti terbakar hingga membutuhkan obat untuk menahan rasa sakitnya.

Aku tak bercerita tentang yang kedua, teman. Aku ingin bercerita padamu tentang mereka yang tak mampu meraba. Aku bertemu dengan seorang dari mereka, kemarin.


www.wired.com

Awalnya hanya ulcer biasa, teman. Hanya luka kecil di kaki yang entah kapan mulai timbul, begitu cerita dia kepadaku. Lalu dia meluas. Cepat. Seperti kayu tersandar yang diinvasi rayap. Tak terasa, tiba-tiba kayu itu lapuk dan berongga. Itu kayu. Yang kutemui adalah kaki, teman. Saat pemiliknya tersadar bahwa kaki ini mengalami masalah serius, kurasa saat itu sudah terlambat. Ulser itu terlalu meluas hingga memakan daging kakinya sekitar 50% atau mungkin lebih. Aku tak terkejut. Sudah sering kudengar cerita seperti ini semenjak masih belajar di kampus. Kakinya terbungkus kasa dan plastik hitam, aku tak melihatnya. Aku tak mengira bahwa di dalam kasa dan plastik hitam itu ada kaki yang membusuk dan dipersiapkan untuk amputasi beberapa hari lagi.

Dia tidak nampak sedih, teman. Tidak pula nampak begitu bersemangat bebas dari penderitaannya nanti. Istrinya selalu berada di sampingnya. Setidaknya hingga waktu berkunjung sudah habis.

Aku berada di sana ketika dokter bedah mempersiapkan kondisi fisik dan mental dirinya sebelum amputasi. Aku melihat mata istrinya berkaca-kaca ketika dokter meminta mereka untuk ikhlas, saat dokter berkata di ramadan ini semoga dapat menjadi berkah dan pahala penghapus dosa. Aku melihat mata istrinya nya berkaca-kaca namun bibirnya tetap tersenyum dan tak henti-hentinya berterima kasih pada para dokter atas perawatan yang mereka berikan. Tapi untuk apa..

Aku merasakan detak jantungku saat kudengar suara istrinya yang bergetar. Mencoba bergurau dengan teman sejawat yang ikut berjaga denganku di malam itu. Sang istri bercanda dengan suara yang bergetar, sesekali melempar senyum, mengajak suaminya untuk sejenak lupa dan berbahagia walau mungkin hanya untuk sebentar saja. Aku melihat mereka bertiga dari kejauhan. Aku tak mahir menahan perasaan. Seharusnya aku kuat dan menjadi sandaran, apa daya bila suaraku saja hanya sampai di tenggorokan.

Baris-baris kalimat di buku berikutnya yang kubaca menjadi semakin hidup, teman. Baris-baris itu tak lagi hanya menjadi kumpulan data, persentase atau algoritma belaka. Baris-baris itu seakan bercerita, bahwa dia ada karena sesuatu yang sebelumnya memang nyata. Seperti cerita-cerita yang kutemui kemarin.

Emosi Bodoh dari Gadis terBodoh yang Selalu Membodohi dan tak sadar Semakin Bodoh

(i should write chicklit sometimes, hahaa... this one comes from my dream. Why do my dreams always soo strange... and sooo sineutrone.. aagh.. take ur time and enjoy! :-) )

17.00
Baru saja sore hendak berganti senja saat kami memutuskan menginap di pom bensin itu. Tora menghentikan APVnya dekat dengan pintu pom dan hatiku melonjak, entah karena capek perjalanan atau irama yang lain yang membuatku segera menghambur keluar dari APV. ;-> Alissa dan Christian yang sedari tadi tertidur membuka mata untuk pertama kalinya, terbangun karena ketenangan dari jalan berbatu yang sudah berhenti melempar-lemparkan kami sepanjang perjalanan.

Pintu APV kutinggalkan terbuka, aku melipat jeansku ke atas hingga bawah lutut dan mengangkat tinggi-tinggi tanganku ke atas. "HUahhh... segarnya". Terdengar suara Christian dari belakang APV, "Mey, bantuin angkat barangnya, naa..!". "OK", kataku riang diikuti langkah-langkah panjang seseorang yang kukenal, Alissa, temanku yang periang dan cantik. "Aku ikut, Memey!", katanya sambil meniru nada riangku saat aku menoleh ke belakang, ahahaahaa.

Bola mataku mencari-cari Tora di antara koper-koper dan plastik hitam raksasa yang harus akuturunkan, tidak kutemukan sampai... bahuku ditepuk dari belakang, "Mey, A34 ini ya yang ditukar dengan A41? Sepertinya belum kaucatat di sini.." Tora memegang buku daftar barang-barang yang harus kami kirimkan sambil melingkari sesuatu dengan pulpen merahku. Kacamata berbingkai tebal melingkari matanya yang indah, naik sedikit akan kautemukan kerutan dahi samar di antara kedua alis yang indah, ... Turun lagi ke matanya, biru dan dalam hingga tak terbias oleh lensa kacamat, ..."Mey?" Mata itu memandang ke arahku, memergoki aku yang tengah mengintai keindahannya dan mewarnai pipiku dengan rona. "Eh, ya?.. Coba kulihat, hm iya. Kukerjakan nanti setelah ini selesai, itu butuh perhitungan yang agak rumit" kataku tersenyum sambil mengangkat kedua plastik bergaris yang tingginya setengah tubuhku turun dari kursi belakang APV. "OK, ... oh sini kubantu" tangan Tora meraih ujung terjauh plastik dan mendorong badannya begitu dekat dengan lenganku, mengirim wangi khasnya langsung ke hidungku. Aku rela momen ini tak berganti hingga akhir hidupku, aaahhhh... Pikiran bodoh ini... kuputar bola mata dengan konyol dan tersenyum membelakangi Tora dan.. OMG di depan Christian. "Kamu gak papa, Mey?" tanya Christian nampak khawatir. oh, mmm,.. Memey bodoh.

21.00
Menginap di pom bensin ini tidak begitu buruk, Alissa dan aku dapat kehormatan memakai kamar pegawai pom yang sedang cuti. Tak perlu tidur di lantai seperti hari-hari yang telah lalu. Kutarik lembar-lembar tali bahan gelang tangan yang kubeli di pasar desa bersama Alissa tadi siang.
"Mey, liat liat! Gelangnya bagus-bagus ya? Aku mau beli tali yang belum dirangkai ah.. aku mau rangkai sendiri. Kalau gak ngerti bisa tanya Christian atau Tora. Choky, sepupuku yang kemarin itu, pasti seneng banget punya gelang selucu ini. :-D Kamu mau beli juga Mey?" Alissa bertanya tanpa mengangkat kepalanya ke arahku. Aku mengangguk. Setelah berapa lama berdiri di tengah panasnya pasar, aku memutuskan membeli 6 tali berwarna lucu, 2 utas akan kurangkai sendiri dengan teknik sederhana yang diajarkan penjualnya kepadaku dan 4 sisanya.. akan kurangkai bersama Tora, heheheee...

Dengan tersenyum, kujejalkan 6 tali itu ke saku jeansku. Aku berjalan keluar, di samping mushola pom bensin, kulirik ke dalam ada Alissa yang masih memakai mukena dan mempermainkan utas-utas tali yang tadi ia beli. Hm, pasti demi gelang untuk Choky, hehee. Aku tersenyum dan berjalan menuju pintu mushola. Langkahku terhenti saat nampak Tora mendekati Alissa yang sedang asyik duduk. Aku tidak dapat mendengar apa yang sedang mereka bicarakan, tapi mereka nampak saling tersenyum dan bahagia.

Tora duduk di samping Alissa, mengambil utas-utas tali itu dari tangannya dan mulai merangkai sambil sesekali tertawa bersama. Aku mengurungkan niatku masuk mushola. Aku berbalik dan menarik keenam tali sial itu dari jeansku. Kulempar ke jalan, berharap mereka hancur oleh ban-ban truk yang mengisi solar di pom. Berharap mereka lebih hancur dan sesak dari yang kurasa di dadaku. Benar-benar berharap.

21.30
Aku berbaring di atas kasur pegawai yang jarang dijemur dan memandang ke langit-langit. Dua cecak tengah berebut nyamuk di dekat lampu. Pikiranku lari ke mushola, dan lari ke Alissa serta Tora.
Emosi ini emosi yang spesial, yang menjadi latar belakang pertumpah darahan pertama di bumi. Aku menikmatinya. Mengapa Qabil begitu hati membunuh saudara terdekatnya, Habil? Dendamkah? Bencikah? Bukan. Tapi cemburu.
Aku tertidur.

5.00
Bangun, sholat, lalu menemukan 2 untai gelang indah di tarikan ritsleting tasku. 'Kamu jatuhin gelang ini di depan mushola, semoga kamu tak marah gelangnya kurangkai, kalau jelek diulangi aja, OK?! -Christian-' Hm, aku tersenyum dan memakai gelang dengan 4 warna di tangan kiriku. Perjalanan kali ini tak begitu buruk, ternyata.

hantu kos tanti

Masih tentang bersih-bersih, aku jadi ingin bercerita tentang sesuatu yg terjadi di minggu kedelapan stase anak, 2 minggu yang lalu.

Suatu pagi aku terbangun oleh ketukan tergesa di pintu kamar. Bukan pintu kamarku, tapi pintu Indri, teman kos kamar sebelah sekaligus kolega koas di rumah sakit. Dengan bersungut, aku menutup telingaku dengan bantal. Masih jam 6 pagi, aku mau tidur lagi. Sebelum bantal menutupi telingaku, aku sempat mendengar irama ketakutan dari sang pengetuk kamar. Kiranya itu suara Enggar, penghuni baru Kos Mata Bola tempatku menginap selama ini. Hm, rasa ingin tahuku jadi terpancing. Kuurungkan niat tidur lagi dan mulai memasang telinga.

"Mbak.. mbak Indri. Buka pintunya, mbak!" kata Enggar tergesa. Beberapa kali dia masih mengetuk sebelum akhirnya pintu terbuka.
Kriett.. "Hm..?" Indri membuka pintu dg suara bangun tidurnya yg khas.
"Mbak, ini uang iuran pembantu kos." --Oh, mau bayar iuran kos.. batinku. Niat tidur lagi kembali muncul. Kirain apa.. Huahem.
"Oh ya. Makasih ya." Indri hampir menutup pintu saat Enggar kembali berkata dg tergesa.
"Mbak Indri, kok piring gelas sendok di tempat cucian bersih semua, ditata lagi di ember. Padahal kan mbak pembantu datangnya mesti siang kan ya? Perasaan tadi malam jam 9an gitu masih pada kotor semua".

Indri membuka lebar pintunya lagi. "Oh kos ini emang sering kayak gitu kok. Kayak ada yang jagain gitu. Tapi baik-baik aja. Malah semua pada bersih kan. Asal kita gak ganggu gak apa-apa." Indri menjawab dengan meyakinkan.
"Ada yang jagain.." Enggar mengulangi kata-kata Indri dg datar. "Maksudnya..." Enggar tidak meneruskan kata-katanya.
Indri melanjutkan, "Asal kita nggak ngganggu dan mengganggu sih gapapa..."
Suasana pagi itu berubah menjadi horror mendadak, teman-teman, percayalah. Hiiyyy..
Enggar cuma berkata "ooh.. (glek) yaudah kalau gitu, makasih ya mbak Indri" lalu segera kembali lagi ke kamarnya.


www.clker.com

Aku yang ada di kamar sebelah cuma senyum-senyum aja nahan ketawa. Coba mereka tau hantunya semanis ini yaa... hahaa. Jadi ceritanya, pelaku pencuci barang pecah belah di kos itu aku. Aku lumayan sering bangun malam, terus nyuci piring dan sendokku sendiri. Aku lebih suka mencuci malam hari karena sepi dan tidak banyak teman kos yg membawa teman cowoknya lalu lalang.

Beberapa waktu, tempat cucian piring di kos sangat penuh dengan alat pecah belah yg kotor. Aku kesulitan mencuci alat makanku sendiri, jadi yaa akhirnya kucuci sendiri semuanya, hahaa.. Setelah selesai mencuci, aku merasa sayang naruh alat makan mereka di lantai cuci piring gitu aja. Akhirnya aku cuci juga deh salah satu ember, terus kutata alat makan mereka di dalam ember itu, maklum kosku belum punya rak piring bersama.

Sebenarnya, kebiasaan ini udah berlangsung sejak 3 atau 4 bulan yang lalu. Aku pikir mereka nggak mikir macam-macam karena gak ada yang komplain atau cerita yg aneh2, makanya aku kadang masih melakukannya. Sampai hari itu, hahaaa.. Mm.. pernah sih suatu kali aku kepergok Tiwi, teman kosku yg kamarnya di pojok paling barat. "Hah, tanti. Kamu belum tidur?" katanya sambil mendekati tempat cucian piring. Aku senyum meringis yg khas (kayak mbah surip aja, hohoo), "Iya niy, aku kehabisan gelas, jd mo cuci gelas dulu. Tiwi diam aja, melihat ember andalanku yang sudah terlanjur penuh dg piring2 itu, "ya ampun Tan, kamu nyuci semua alat makan anak kos". "Hm? Iya. Habis sayang sabun piringnya, masih sisa banyak" kataku sambil terus nyuci dan senyum meringis.

Tiwi melihatku prihatin seperti kita melihat pengamen yg kurang kerjaan kongkow2 di jalan. Aku jadi mikir2 juga, jangan2 emang bener dy ngrasa kasian karena aku kurang kerjaan. Buset, belajar Bu Tanti, belajar, minggu lusa ujian stase anak malah ngelantur. Yang jelas, Tiwi tidak pernah bercerita ke siapapun kalau dy mergoki aku nyuci piring tengah malam.Seenggak-enggaknya nggak sama Indri atau Enggar, hahaaa.

Anyway, begitulah cerita hantu kos pembersih piring bermula. Aku malas meluruskan cerita yang kadung beredar. Jangan sampai deh dianggap saingan sama hantu kos yang aslinya, wuiyy... bulu kuduk berdiri. Dan, tau nggak, ember berisi piring2 bersih itu masih tak brgeming dalam 3 hari ke depan.. Atau lebih, karena habis itu aku pulkam.
Entah yg punya piring2 malas ngambil atau ngrasa serem kalau ngambil, hahaa.

Tanti and the Audience

TANTI:
When a girl is trying to say "I apparently fall for someone witty, bright, not just a lady'sman. With dashing face and well-built body. Money and heart can come later as they can be managed in process of time." Trust me. Most girls think like that. She is very likely drawing this picture.

AUDIENCE: hm.. yeah.. yeah

And.. when a girl is trying to say "I accept anyone I love as he is, in bittersweet til the end of time. As long as we love each other. (And that is the most important!) Loves me only. Loves me even if it cost him his life. Loves me loves me, no other girl." Is it only me? Or is she really being a little compulsive here? Hehe, either way she is very likely drawing this picture.

AUDIENCE: hahaaha..

Mm.. and when girl is trying to say "I love anyone who can make me happy for ever and ever". Actually, there's only one thing in her mind. Hear that?..a familiar jingling sound.. Hahaa. We agree this girl is very likely drawing this picture.

AUDIENCE: make sense.. make sense..

But maybe, the hometruth of those girls and many others are something like "well, I'll take whomsoever".

AUDIENCE: *ssiiinggg...
ehem.. ehem.. err.. so Tanti, what you really trying to tell us is.. (haw haw.. LOL..)

(inspired by NK's and Tanti's drawing sometime in operating theatre last week.. girl ow girl *headshaking) :-D

Sunday, August 09, 2009

obsesi: bersih-bersih yuk!

Teman kita tanti ini suka bersih-bersih. Kali ini pun semua postingannya di blog dia bersihkan, hahaa.